+6221-3507645 faq sitemap contact


Breaking News
Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Selasa, 17/01/2017
 LATEST TWEETS   

Peran Pramuka dalam Membentuk Karakter Kedisiplinan Anak di SD/MI

Latar Belakang

Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga, dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Sedangkan Gerakan Pramuka adalah Gerakan (Lembaga) Pendidikan yang komplementer dan suplementer (melengkapi dan memenuhi pendidikan yang diperoleh anak/remaja/pemuda di rumah dan di sekolah), pada segmen yang belum ditangani oleh lembaga pendidikan lain yang pelaksanaannya mengunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan; di Alam Terbuka (outdoor activities), dan yang sekaligus dapat menjadi upaya “self education” bagi dan oleh anak/remaja/pemuda/pramuka sendiri.

1

Doc. Humas Kwarnas

Pramuka merupakan sebuah kegiatan organisasi pendidikan non formal yang memiliki konsep yang baik dan tersusun rapi. Selain itu, pramuka juga memberikan manfaat yang besar kepada anak baik secara langsung ataupun tidak langsung. Tidak heran lagi jika Pramuka sekarang digalakkan di sekolah dan dipandang sebagai kegiatan yang bagus bagi anak dan merupakan kebutuhan bagi anak di SD/MI. Kegiatan Pramuka tidak hanya mempelajari baris-berbaris dan kegiatan lainnya, Pramuka juga mempelajari tentang pendidikan dibidang keagamaan, teknologi, jasmani/kesehatan, alam sekitar, sosial, dan lain sebagainya. Karena kegiatan yang dilakukan Pramuka itu berhubungan langsung dengan masyarakat dan merupakan salah satu contoh dari pendidikan dibidang sosial, maka sangat bagus untuk membentuk karakter kepribadian pada anak. Salah satunya karakternya itu adalah karakter kedisiplinan.

Pasal 4 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 berisi tentang Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup[1].

Pemaparan diatas merupakan alasan penulis untuk mengambil tema ini, karena betapa pentingnya peran pramuka dalam membentuk karakteristik kedisiplinan anak di SD/MI. Sehingga anak bisa secara sadar untuk disiplin dalam segala kegiatan sehari-hari anak, baik kegiatan di sekolah maupun kegiatan di pramuka.

Metode penelitian yang diambil penulis pada penelitian yang sudah dilakukan adalah observasi. Pengertian observasi sendiri adalah Proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis mengenai gejala-gejala yang diteliti. Observasi ini menjadi salah satu dari teknik pengumpulan data apabila sesuai dengan tujuan penelitian, yang direncanakan dan dicatat secara sistematis, serta dapat dikontrol keandalan (reliabilitas) dan kesahihannya (validitasnya). Observasi yang dilaksanakan oleh penulis bersifat observasi partispasi, dan pengertian observasi partisipasi adalah Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpatisipasi dalam aktivitas yang diteliti.

Dasar teori

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin “discipulus” yang berarti  “pembelajaran”. Jadi,  disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Menurut Ariesandi arti disiplin sesungguhnya adalah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat[2]. Menanamkan prinsip agar peserta didik memiliki pendirian yang kokoh merupakan bagian yang sangat  penting dari strategi menegakkan disiplin. macam-macam  disiplin dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  1. Disiplin waktu
  2. Disiplin menegakkan aturan
  3. Disiplin sikap

Manfaat yang didapat ketika peserta didik disiplin dalam segala hal adalah sebagai berikut :

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri
  2. Mengajarkan untuk teratur dalam beraktivitas
  3. Menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, ketenangan jiwa, dan menumbuhkan kepekaan
  4. Menumbuhkan rasa kepatuhan terhadap peraturan
  5. Melatih kemandirian peserta didik

Pembahasan

Pada pasal 11 dan pasal 13 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 berisi tentang pendidikan kepramukaan dalam Sistem Pendidikan Nasional termasuk dalam jalur pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai gerakan pramuka dalam pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup.  Setiap warga negara Indonesia yang berusia 7 sampai dengan 25 tahun berhak ikut serta sebagai peserta didik dalam pendidikan kepramukaan[3]. Dari pemaparan pasal 13 jenjang pendidikan kepramukaan untuk MI adalah sebagai berikut :

  1. Pramuka siaga;

Siaga adalah sebutan bagi anggota Pramuka yang berumur 7-10 tahun. Disebut Pramuka Siaga karena sesuai dengan kiasan pada masa perjuangan bangsa Indonesia, yaitu ketika rakyat Indonesia mensiagakan dirinya untuk mencapai kemerdekaan dengan ditandai berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai tonggak awal perjuangan bangsa Indonesia. Dalam Pramuka Siaga ada tiga tingkat, yaitu:

  1. Mula, mengkiaskan tingkatan kecakapan mula-mula (awal) yang dimiliki Siaga
  2. Bantu, mengkiaskan tingkatan kecakapan siaga yang dapat membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu
  3. Tata, mengkiaskan tingkat kecakapan Siaga sudah diikutsertakan untuk menata karya kesiagaan. Menata karya artinya menyusun dan mengatur pekerjaan dengan rapih dan bersih

Kode Kehormatan Pramuka Siaga adalah dwi satya dan dwi dhama yang berisi sebagai berikut[4] :

  1. Dwi Satya, Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh- sungguh,
  2. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menurut aturan keluarga.
  3. Setiap hari berbuat kebaikan.
  4. Dwi Satya

Siaga itu patuh pada ayah dan ibundanya.

Siaga itu berani dan tidak putus asa.

  1. Pramuka penggalang

Penggalang adalah sebuah tingkatan dalam pramuka setelah siaga. Biasanya anggota pramuka tingkat penggalang berusia dari 10-15 tahun. Satuan Satuan terkecil dalam Pramuka Penggalang disebut Regu dan Kesatuan dari beberapa Regu disebut Pasukan. Setiap Regu beranggotakan 5-10 orang Pramuka Penggalang dan dipimpin oleh seorang Pemimpin regu (Pinru) yang dipilih oleh anggota regu itu sendiri. Masing-masing Pemimpin Regu ini nanti akan memilih satu orang dari mereka yang akan menjadi Pemimpin regu Utama yang disebut Pratama. Pasukan yang terdiri dari beberapa regu tersebut dipimpin oleh seorang Pratama[5]. Penggalang memiliki beberapa tingkatan dalam golongannya, yaitu :

  1. Ramu, Seorang anggota Pramuka tingkat Penggalang Ramu, harus bisa MERAMU pengetahuan umum dan pengetahuan kepramukaan sebagai pengalaman untuk bekal hidupnya di masa mendatang.
  2. Rakit, Seorang anggota Pramuka tingkat Penggalang Rakit, harus bisa MERAKIT pengetahuan umum dan pengetahuan kepramukaan yang diperolehnya saat menjadi Penggalang RAMU sebagai pengalaman untuk bekal hidupnya di masa mendatang.
  3. Terap, Seorang anggota Pramuka tingkat Penggalang Terap, harus bisa MENERAPKAN pengetahuan umum dan pengetahuan kepramukaan yang diperolehnya saat menjadi Penggalang RAMU dan Panggalang RAKIT dalam lingkungan keluarga dan sekolah(khususnya) ataupun lingkungan masyarakat(umumnya) sebagai pengalaman untuk bekal hidupnya di masa mendatang.

Kode Kehormatan bagi Pramuka penggalang, terdiri atas :

  1. Janji yang disebut Trisatya, selengkapnya berbunyi :

Trisatya, Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:

  1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan pancasila.
  2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.
  3. Menepati Dasadarma.
  4. Ketentuan moral yang disebut Dasadarma, selengkapnya berbunyi :

Dasadarma

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
  3. Patriot yang sopan dan kesatria.
  4. Patuh dan suka bermusyawarah.
  5. Rela menolong dan tabah.
  6. Rajin, trampil dan gembira.
  7. Hemat, cermat dan bersahaja.
  8. Disiplin, berani dan setia.
  9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya.
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Pramuka, mengajarkan anak untuk dapat tepat waktu dalam menjalankan aktivitasnya baik ketika berkemah atau kegiatan pramuka yang lainnya, tetapi anak juga dilatih untuk bisa tepat waktu dalam kegiatan sehari-hari diluar Pramuka. Tepat waktu disini adalah salah satu bentuk contoh kedisiplinan secara sederhana yang bisa diterapkan ke anak SD/MI. Jika anak sudah terbiasa melakukan segala aktivitas dengan tepat waktu, maka akan tumbuh jiwa kesadarannya tanpa disuruh untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Ketika penulis melakukan penelitian kecil dalam bentuk observasi di SD Negeri Adisucipto 1 Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 2016 anak–anak mengikuti kegiatan ekstarkurikuler Pramuka pada pukul 16.00 WIB. Dan anak–anak yang mengikuti kegiatan Pramuka tersebut, sudah mulai berdatangan pukul 15.30 dan memang ada yang datang terlambat. Ketika anak tersebut datang terlambat dengan kesadaran anak tersebut melaksanakan hukuman lari keliling lapangan sebanyak 3 kali. Hukuman yang diberikan oleh Pembina Pramuka itu semata–mata untuk melatih kedisiplinan anak dan membiasakan anak untuk datang tepat waktu. Dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SD Negeri Adisucipto 1, anak–anak diajarkan berbagai kegiatan, misalnya baris–berbaris dan membuat sebuah penyaring air. Didalam kegiatan membuat sebuah penyaring air anak–anak diberikan waktu selama 10 menit untuk melakukan uji coba. Pemberian waktu uji coba selama 10 menit bertujuan melatih ketepatan waktu yang diberikan pembina. Apakah anak–anak bisa dan berhasil dalam uji coba penyaring air dalam waktu singkat. Setelah dibuktikan anak–anak berhasil melakukan uji coba yang dilaksanakan dengan hasil air kotor yang disaring menjadi air jernih. Keberhasilan mereka dengan waktu singkat itu karena ketepatan waktu dan ketelitian yang dimiliki. Ketika waktu ekstrakurikuler pramuka sudah akan berakhir maka anak–anak mengingatkan kepada Pembina agar kegiatan ekstrakurikuler pramuka segera diakhiri. Sebelum mengakhiri kegiatan ekstrakurikuler ini pembina memberikan arahan agar anak-anak tetap disiplin baik di sekolah dan di luar sekolah agar bisa mendapat hasil yang maksimal dari apa yang mereka kerjakan.

Penelitian kedua kembali dilaksanakan pada tanggal 1 April 2016, pada kesempatan ini penulis berkesempatan terjun langsung mengajar anak–anak. Dalam kesempatan kali ini materi yang disampaikan adalah disiplin berpakaian dalam pramuka. Kegiatan awal pada penelitian kedua sama dengan penelitian pada tanggal 18 Maret 2016. Pembina pramuka memberikan info bahwa anak–anak yang pramuka siaga dan pramuka penggalang dipisah. Pramuka siaga masuk kedalam kelas dan pramuka penggalangnya tetap di lapangan atau belajarnya di luar ruangan. Materi disiplin berpakaian dalam pramuka disampaikan pada pramuka siaga. Pada saat penyampaian materi anak–anak memperhatikan dengan seksama tentang apa disampaikan. Setelah selesai penyampaian materi penulis mencoba memberikan contoh seragam pramuka yang benar antara laki–laki dan perempuan dengan memanggil anak laki-laki dan perempuan sebagai contoh untuk teman-teman didepan kelas. Dan membuat penulis bangga dan takjub adalah anak–anak SD Negeri Adisucipto 1 seragam pramuka sudah lengkap dan sesuai standar yang berlaku. Hal tersebut membuktikan bahwa kedisiplinan berpakaian yang diterapkan dalam pramuka dapat melatih anak untuk berpakaian rapi dan bersih ketika menjalankan aktivita baik di sekolah dan di rumah.

Dari penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa kedisiplinan di SD Negeri Adisucipto 1 sudah mulai berjalan dengan baik. Kesadaran anak–anak untuk disiplin dalam segala hal sudah mulai tumbuh, karena bimbingan dan latihan yang diberikan oleh Pembina pramuka dan staf pengajar pramuka. Dilain pihak kedisiplinan anak–anak ini tumbuh karena faktor dari orang tua yang latar belakangnya adalah seorang anggota TNI AU. Dan untuk anak–anak yang belum bisa disiplin diberikan hukuman yang bersifat mendidik dan membimbing. Pembina pramuka tidak berani dan tidak memberikan hukuman yang diberikan itu bersifat kekerasan karena akan berakibat ke psikis anak – anak dan menimbulkan trauma.

Penutup

Penelitian yang dilakakukan dan teori yang ada dapat membuktikan bahwa Pramuka merupakan wadah atau tempat untuk membentuk dan melatih karakter kedisiplinan anak di SD/MI. Sehingga anak–anak terbiasa melakukan semua hal dengan disiplin dan tepat waktu.

Daftar Pustaka

Ariesandi. (2008). Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia, Tips dan Terpuji  Melejitkan Potensi Optimal   Anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

http://www.pramukaindonesia.com/2015/02/golongan-pramuka-siaga.html, diakses pada tanggal 4 Juni 2016 Pukul 15.00 WIB.

http://pramuka.or.id/penggalang-2/ diakses pada tanggal 4 Juni 2016 Pukul 15.15 WIB.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010

[1] Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010

[2] Ariesandi, Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia, Tips dan Terpuji  Melejitkan Potensi Optimal   Anak, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 230-231

[3] Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010

[4] http://www.pramukaindonesia.com/2015/02/golongan-pramuka-siaga.html

[5] http://pramuka.or.id/penggalang-2/



Penulis : Aisyah Putri Deapalupi