+6221-3507645 faq sitemap contact
Breaking News
Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Minggu, 21/10/2018
 LATEST TWEETS   

Menjadi Orang tua Sejati (Tinjauan Sosiologis Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Kepramukaan)

 Kwarnas  22 Februari 2018  595 views
Kak Rioberto Sidauruk (Foto: Dok. Humas Kwaenas)

Kak Rioberto Sidauruk (Foto: Dok. Humas Kwaenas)

Oleh: Rioberto Sidauruk – Annas Orgakum, Tim Pokja AD/ART Gerakan Pramuka.

Undang-Undang No.12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka tertulis Orang tua berhak mengawasi penyelenggaraan pendidikan Pramuka dan memperoleh informasi tentang perkembangan anaknya (Pasal 40 UU No. 12 Tahun 2010). Dalam kesehariaan di lingkungannnya, menjadi orang tua harus berkorban, harus menyayangi semua anak tanpa syarat, senantiasa berlaku adil, tidak boleh buat kesalahan dalam menghadapi anak-anak.

Padahal ciri khas manusia dapat berbuat kesalahan, punya kelemahan, keinginan memenuhi kebutuhan diri dsb. Orang tua tidak berani tampil apa adanya karena ingin selalu memperlihatkan pada anak-anaknya bahwa mereka adalah *orang tua baik*.

Jadi, apakah orang tua tidak dapat menjadi pribadi sejati?
Dalam psikologi humanistik manusia di konseptualisasikan sebagai makhluk yang mempunyai kebebasan untuk mengembangkan potensi dirinya.

Bagi orang dewasa dalam hal ini orang tua dapat senantiasa mengembangkan dirinya demikian pula bagi anak perlu juga diberi kebebasan untuk mengembangkan dirinya.

Berdasarkan rumusan di atas Prof Dr Saparinah Sadli menuangkan pengertian tersebut sebagai berikut:
1. Orang tua manusia dan bukan malaikat.
2. Sebagai manusia orang tua juga memiliki perasaan, kebutuhan, kelemahan.
3. Karenanya adalah manusiawi bila orang tua tidak selalu konsisten.
Kondisi psikologisnya tidak selalu dapat menerima semua tindakan anak anaknya, tidak selalu dapat menguasai perasaannya dan tidak selalu dapat meniadakan kebutuhannya sendiri.
4. Bahwa orang tua sebagai manusia perlu menjadi pribadi sejati.

Pribadi Sejati menyatakan bahwa manusiawi jika orang tua salah kemudian menjelaskan pada anak bahwa ada kesalahan dan mengapa kesalahan itu terjadi, dapat tampil apa adanya dengan segala kekuatan dan kelemahan diri, dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Jadi bagaimana bisa menjadi Pribadi Sejati tapi tetap berfungsi sebagai orang tua yang positif..?

Salah satu kuncinya ada pada komunikasi. Komunikasi merupakan keterampilan yang penting dalam hidup. Kita menghabiskan sebagian besar hidup dari bangun tidur sampai hendak tidur kembali melalui komunikasi.

Meningkatkan ketrampilan komunikasi sebagai orang tua, karena anak belajar cara orang tua berkomunikasi. Jika orang tua berkomunikasi dengan anak secara positif maka anak dapat berhubungan dengan orang tua merasa aman dan nyaman. Juga anak bisa tumbuh jadi pribadi yang utuh.

Mengutip pesan Lord Baden Powel: “jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, sampai kamu kelak telah dewasa”. Jadilah orangtua sejati untuk anak-anak Indonesia.

Salam Pramuka.