+6221-3507645 faq sitemap contact
Breaking News
Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Jum'at, 20/07/2018
 LATEST TWEETS   

Empat Pesan Bapak Pramuka Indonesia untuk Kak Sultan Hamengkubawono X

 Kwarnas  13 April 2018  108 views

Foto: Dok. Humas Kwarnas

YOGYAKARTA, PRAMUKA.OR.ID – Selain sebagai negarawan, Kak Sultan Hamengkubuwono IX juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Hari lahir Sultan, 12 April 1912, baru saja ditetapkan sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia melalui Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 046 tahun 2018 tentang Peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia.

Suksesor Sultan yang tak lain adalah putra sulungnya, Kak Sultan Hamengkubawono X, mengisahkan pengalaman pribadinya bersama Wakil Presiden kedua itu. Kepadanya, sang ayah memberikan empat pesan penting tentang kepemimpinan dan keteladanan. Apa saja pesan-pesan penting Bapak Pramuka Indonesia itu?

“Beliau itu multi dimensi. Tapi saya punya pengalaman hidup bersama beliau yang tidak akan terlupa sampai sekarang. Salah satunya, beliau tidak pernah membeda-bedakan orang, termasuk anak-anaknya,” ungkapnya saat acara saresehan usai malam renungan Peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia, Rabu (11/3) malam di Keraton Yogyakarta.

Kak Sultan Hamengkubawono X mengisahkan, suatu saat ayahnya itu sedang terlihat memikirkan sesuatu. Setelah mondar-mandir di ruangan, sang ayah memanggilnya.

“Saat itu saya ditanya. Pilih mukti (berguna) atau mulyo (mulia)? Saya jawab mukti. Tapi kemudian beliau bertanya lagi. Kenapa pilih mukti?”

Kak Sultan Hamengkubawono X pun memberikan alasan. Menurutnya, jika memilih mulyo, mungkin dia akan kaya, tetapi belum tentu bermanfaat bagi masyarakat.

“Sebaliknya, jika saya memilih mukti, bisa jadi saya tidak kaya. Tetapi pikiran dan tenaga saya mungkin bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Mendengar itu, sang ayah yang juga Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama itu memintanya berjanji empat hal.

“Maukah kamu berjanji untuk mengayomi semua orang, bahkan orang yang tidak suka sama kamu?” ungkapnya mengisahkan sang ayah.

Kak Sultan menyatakan mau berjanji. Sang ayah kemudian melanjutkan janji yang kedua.

“Maukah kamu berjanji untuk tidak melanggar aturan negara?”

Kak Sultan pun kembali mengiyakan. Namun saat dimintai berjanji yang ketiga, dia sempat interupsi. Saat itu, sang ayah memintanya berjanji untuk lebih berani mengatakan yang benar itu benar.

“Saya bertanya, mengapa harus ada penekanan lebih berani mengatakan yang benar itu benar. Lebih berani dari siapa? Beliau menjawab, ‘lebih berani dr saya.'”

Sang ayah menjelaskan, dirinya pernah bekerja di bawah kepemimpinan dua presiden, yaitu Presiden Soekarno dan Soeharto. Saat terjadi perbedaan pendapat dengan keduanya, dirinya memilih diam.

“Beliau mengatakan, ‘Saya menyadari, diam saya salah. Karena saya diam, rakyat Indonesia tetap miskin dan bodoh,”’ kenangnya.

Setelah menyetujui janji ketiga, Kak Sultan Hamengkubawono X pun diminta mengucap janji yang keempat. Dia diminta berjanji untuk tidak berambisi apa pun kecuali untuk menyejahterakan rakyat. Dia pun menyetujui.

“Kalau kamu sudah berjanji empat hal itu, tidak usah cari saya, karena saya akan senantiasa berada di sampingmu. Tapi kalau kamu mengkhianati janji itu, tidak usah cari saya, karena saya tidak akan ada di sampingmu,” pungkas Kak Sultan mengisahkan pesan-pesan Bapak Pramuka Indonesia itu.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault menegaskan ketokohan dan jasa Kak Sultan di Gerakan Pramuka. Menurutnya, Kak Sultan memimpin Gerakan Pramuka dalam situasi politik yang pelik, baik nasional maupun internasional. Terjadi transisi kekuasaan dari Orde Lama kepada Orde Baru, namun dia tetap berdiri di atas dan untuk semua golongan.

“Demi Gerakan Pramuka yang sangat dicintainya, Kak Sultan bekerja ikhlas dan sepenuh hati, berprestasi tanpa terpengaruh oleh dinamika kebangsaan yang sedang berlangsung. Gerakan Pramuka tetap bergerak, berkegiatan, dan berkiprah bagi semua anak bangsa,” ungkapnya.

Kak Adhyaksa menambahkan, sejak awal, Sultan punya visi sangat baik untuk Gerakan Pramuka. “Jauh sebelum semua lembaga-lembaga sosial dan komersial berpikir tentang pengabdian masyarakat, Kak Sultan mengatakan, tanpa manfaat yang bisa diberikan pramuka kepada masyarakat, maka Pramuka akan ditinggal,” tegasnya. (AK)