+6221-3507645 faq sitemap contact
Breaking News
Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Selasa, 25/09/2018
 LATEST TWEETS   

Kunjungi Museum Rumah Fatmawati di Bengkulu, ini Kesan Kak Susi

 Kwarnas  10 September 2018  84 views

Kak Susi saatengunjungi museum rumah Fatmawati di Bengkulu. (Foto: Dok. Humas Kwarnas)

BENGKULU, PRAMUKA.OR.ID – Masyarakat Indonesia tentunya mengenal Fatmawati, sosok yang menjahit Bendera Pusaka. Kisahnya dapat ditemukan dengan berkunjung ke Museum Rumah Fatmawati di Bengkulu. Wakil Ketua Kwarnas, Kak Susi Yuliati, Mei 2018 lalu berkunjung ke sana.

“Dengan menapaki tempat bersejarah, mempelajari sejarah perjuangan bangsa melalui kehidupan tokoh pelaku perjuangannya, memahami gagasan dan perjuangannya, selain memberi pengayaan wawasan kebangsaan juga menumbuhkan semangat nasionalisme dan bela negara,” ujar Kak Susi Yuliati di Jakarta, Minggu (9/9/2018).

Di museum rumah Fatmawati, Kak Susi melihat foto-foto Presiden Pertama RI Ir. Soekarno bersama Fatmawati dan Inggit. Ada juga sepeda Bung Karno dan mesin jahit yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Bendera Pusaka. Hanya saja, mesin jahit yang terlihat pada gambar itu adalah mesin jahit generasi berikutnya, bukan yang digunakan Fatmawati.

Kak Susi juga berkunjung ke rumah Bung Karno. Di sana ia melihat foto-foto Bung Karno sebagai pelajar, arsitek, pemimpin pejuang dan pemimpin bangsa. Saat melihat foto-foto itu, ia terbayang perjalanan hidup Soekarno muda dan perjuangannya menggerakkan semangat kebangsaan kaum muda kala itu.

Setelah itu, ia berkunjung ke Benteng Marlborough. Di sana, Kak Susi melihat tempat tahanan di bawah tanah, termasuk ruangan Bung Karno.

“Kompeni Belanda membangun benteng sangat strategis. Dari ketinggiannya bisa memantau Bengkulu. Seperti juga benteng pertahanan yang mereka buat di tempat lain seperti di Bukittinggi, Ternate, Makassar dan lainnya,” tambahnya.

Menurut dia, generasi muda dan Pramuka perlu mempelajari sejarah kebangsaan. Hal itu bisa dilakukan lewat program wisata sejarah, berupa napak tilas perjuangan. Misalnya, longmarch, kunjungan ke tempat bersejarah, museum sejarah atau perjuangan, dan perpustakaan yang memiliki buku-buku sejarah.

“Program wisata sejarah yang dilaksanakan Pramuka Penegak dan Pandega perlu di-support dan dikembangkan. Ini tantangan untuk Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti, khususnya Krida Sejarah. Maju terus dan tetap semangat,” pesan Kak Susi. (MSA/AK)