+6221-3507645 faq sitemap contact
Breaking News
Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Selasa, 22/05/2018
 LATEST TWEETS   

Pramuka Membina Anak Terlantar dengan Ticket to Life

 Kwarnas  17 April 2018  306 views

Foto: Dok. Humas Kwarnas

JAKARTA, PRAMUKA.OR.ID – Organisasi Gerakan Pramuka Dunia (WOSM) mengembangkan program Ticket to Life(TTL) sejak 2006 untuk mengangkat harkat dan martabat anak-anak terlantar dari keluarga fakir-miskin atau keluarga bermasalah, yang sering terlihat di jalanan dan ruang publik, dengan merangkul dan mengajak mereka bergabung mengikuti pendidikan non-formal kepramukaan.

Tujuan program TTL adalah membantu anak-anak terlantar agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang sehat secara fisik, mental, spiritual, emosional, intelektual dan sosial, agar memiliki masa depan yang baik dan mampu berkontribusi bagi masyarakat. Mereka adalah anak-anak berusia dibawah 18 tahun yang orangtuanya tidak mampu memenuhi atau melaksanakan kewajibannya, sehingga kebutuhan tumbuh-kembang anaknya tidak terpenuhi secara wajar dan normal.

Program TTL dijalankan pertama-kalinya oleh Pramuka Kenya (Kenya Scout Association) pada 2006, dan kemudian tumbuh dan dikembangkan ke Organisasi Pramuka Nasional (NSO) lain di Bangladesh, Filipina, India, Mongolia, Nepal, Pakistan, Sri Lanka dan juga Gerakan Pramuka Indonesia sejak 2007. Yang paling terakhir menerapkan TTL adalah Pramuka Thailand (NSO Thailand), baru pada April 2017.

Kini di seluruh dunia, sekitar 3.000 anak terlantar bergabung dalam program TTL, dan mereka berbagi manfaat kepada 12.000 anak lainnya.

Penyebab terbesar anak terlantar adalah faktor kemiskinan keluarga, selain itu juga faktor tidak-harmonisnya keluarga, misalnya akibat orangtua pisah, atau tidak-adanya orangtua maupun sanak-keluarga, sehingga anak-anak tidak memperoleh kasih-sayang, tidak mendapatkan perlindungan, tidak memiliki arah, tidak memiliki tempat bernaung untuk mengadu dan mendapatkan kehangatan keluarga. Mereka terpaksa mencari nafkah di jalanan atau di ruang publik untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, sehingga rawan terhadap eksploitasi, kekerasan dan perdagangan anak oleh orang dewasa.

Program TTL memulai pendampingan bagi anak terlantar dengan memberikan rasa aman dan kasih sayang, kemudian mengingatkan mereka tentang pentingnya kebersihan, kesehatan dan gizi, memperkenalkan hak-hak anak agar mereka memahami dan mampu mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar dan normal serta mendapatkan kembali kepercayaan dan harga diri, meningkatkan harkat dan martabat mereka dengan cara membantu menemukan bakat dan potensi-dirinya, kemudian membekalinya dengan sikap dan keterampilan untuk menjadi tenaga kerja produktif. Ini dilakukan melalui pengembangan program dan metode kepramukaan secara kreatif.

Pada 2007, Gerakan Pramuka (GP) mulai menerapkan program TTL dengan membentuk 2 pasukan TTL, yaitu di kawasan Matraman, Jakpus, dan di kawasan Pondok Gede, Jaktim. Program TTL di Indonesia sempat terhenti pada 2010, dan dimulai kembali pada 2011 hingga kini di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, serta di Kota Depok.

Pasukan TTL di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, diberi nama Pangeran Jayakarta, yang berpindah-pindah dalam berlatih setiap Hari Minggu pagi bersama para Pembina dan Pelatihnya: Kak Yulita Andriani, Kak Syarifuddin, Kak Burhanuddin, Kak Tirta Dilaga, Kak Mashadi, Kak Sulasih, Kak  Fuad Zaen, Kak Krisna, dan Kak Ani Sulistiani.  Sedangkan pasukan TTL di Kota Depok, yang diberi nama Prabu Siliwangi, merekrut anggotanya dari siswa-siswi kelas khusus kaum dhuafa di SMPN 3 Depok. Mereka berlatih setiap Hari Sabtu pagi di halaman SMPN 3 Depok bersama Pembina dan Pelatihnya: Kak Yuwandi, Kak Tri Sutrisno, Kak Dwi Kurniati, dan Kak Bayu Wicaksono.

Kwartir Nasional GP tengah berupaya mendorong terbentuknya 2 pasukan TTL dalam waktu dekat, yaitu di wilayah Kwarda DI (Daerah Istimewa) Yogyakarta yang diusulkan bernama Panembahan Senopati, dan di wilayah Kwarcab Bekasi, Jabar, yang diusulkan bernama Jayagiri, sebutan Bekasi sebagai ibukota kerajaan Tarumanagara tahun 358-660.

Para peserta didik dalam pasukan TTL diberi keyakinan bahwa mereka mampu turut memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa, diawali dengan menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai bagian dari Gerakan Pramuka, yang berarti juga bagian dari WOSM (World Organization of the Scout Movement).

Upacara pengalungan hasduk dan ring Pramuka menjadi ritual yang membanggakan bagi diri seorang peserta didik maupun keluarganya. Dan setelah berseragam Pramuka, maka mereka akan lebur dan tidak lagi berbeda dengan ribuan bahkan jutaan anggota GP lainnya dengan semboyan “Once a Scout always a Scout” (Sekali menjadi Pramuka, seterusnya tetap Pramuka).

Ke-Pramuka-an menjadi salah satu bagian dari proses transformasi bagi diri seorang anak terlantar. Gerakan Pramuka menjadi payung yang menyediakan perhatian, dukungan dan bimbingan, juga tempat berteduh dan mengadu yang aman dan nyaman (safe houses) serta membantu memenuhi kebutuhan tumbuh-kembang anak. Pramuka menempa mereka untuk menjadi pribadi yang disiplin serta percaya diri dan bisa dipercaya.

Kwartir Nasional GP bertekad untuk terus menumbuh-kembangkan program TTL di Indonesia. “Setidaknya target kita adalah menerapkan minimal 1 Pasukan TTL di setiap Kwarda GP,” kata Kak Susi Yuliati, Waka Kwarnas GP bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa).

WOSM (World Organization of the Scout Movement) menyediakan bantuan biaya operasional untuk setiap pasukan TTL. Dananya berasal dari Yayasan Pramuka Dunia (WSF), namun disadari belum cukup untuk membiayai seluruh operasional program TTL yang mencakup ongkos transportasi Pelatih, biaya instrumen latihan, biaya konsumsi, dan pengadaan seragam Pramuka bagi anggota Pasukan. Oleh karena itu NSO (National Scouts Organization) diharapkan menemukan solusi kreatif dan inovatif untuk mencukupi kekurangan dana TTL.

TTL Thailand didukung Kepolisian

Pramuka Thailand mulai menjajagi penerapan program TTL pada awal April 2017, dan Pasukan pertama TTL Thailand terbentuk pada akhir Mei 2017 beranggotakan 18 Penggalang putera dan 22 puteri. Dalam waktu kurang dari setahun, pada Maret 2018, Pramuka Thailand telah memiliki 4 Pasukan TTL yang beranggotakan 96 Penggalang putera dan 65 puteri dari anak-anak terlantar dan anak-anak dari keluarga miskin dan pra-sejahtera.

“Pramuka Thailand (NSOT) ingin membangun sebanyak-banyaknya Pasukan TTL di sepanjang tahun 2018 ini, walaupun memang ternyata tidak mudah,” kata Ketua Program TTL Pramuka Thailand, Mr. Settanun Ungkulpasvich, yang sehari-harinya bertugas dalam Badan Pengawas dan Audit Kepolisian Daerah Metropolitan Bangkok (semacam Komisi Kepolisian Nasional di Indonesia).

Perkembangan pesat program TTL di Thailand antara lain adalah berkat dukungan Kepolisian Kerajaan Thailand (Royal Thai Police), karena Pimpinan Polisi Thailand memahami bahwa program TTL dapat membantu mereka dalam mengelola dan membina anak-anak terlantar sehingga pada akhirnya Polisi Thailand dapat menekan potensi kriminalitas, terutama di kantung-kantung pemukiman masyarakat miskin dan pra-sejahtera.

Peranan Polisi Thailand sangat vital dalam menjamin keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat maupun 35 juta wisatawan-asing setiap tahun, yang menurut data statistik para wisatawan-asing tersebut membelanjakan uangnya hingga 53 miliar Dolar AS (sekitar Rp 720 triliun) selama berwisata di negeri Gajah Putih yang berpenduduk 70 juta jiwa itu. Sekedar pembanding, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyatakan bahwa proyeksi Pendapatan Negara RI pada 2018 sebesar Rp 1.894 triliun, dengan penduduk 260 juta jiwa.

Dukungan Pimpinan NSOT (National Scout Organization of Thailand) terhadap pengembangan program TTL juga tidak diragukan lagi. Mereka berupaya merangkul dan memikat dunia usaha, melalui organisasi para pebisnis internasional Rotary Club yang berpusat di Evanston, Illinois, AS, agar memberikan dukungan fasilitas dan dana. Hal ini dimungkinkan karena salah seorang Andalan Nasional NSOT adalah anggota Rotary Club cabang Klongtoey, Bangkok, Dr. Somboon Bunyasiri, pemilik hotel dan apartemen-sewa Yellow Ribbon Hills Executive Mansion di kawasan Sathon, di pusat kota Bangkok.

Untuk melestarikan dan memaksimalkan dukungan para pebisnis, maka NSOT berupaya ‘mem-Pramuka-kan’ para pebisnis Thailand anggota Rotary Club di Bangkok, dengan menyelenggarakan Kursus Andalan Mahir tingkat Lanjutan ke-828 (828th Commissioners Advanced Course) setara WoodBadge di Pusat Pendidikan dan Latihan Nasional Pramuka Thailand, di Vajiravudh Scout Camp, Sri Racha, pada 22-27 Januari 2018, yang diikuti 50 peserta. Separoh dari pesertanya adalah pebisnis Thailand, sedangkan sisanya adalah Pembina dan Pelatih NSOT serta wakil dari 3 NSO negeri sahabat, yaitu dari Gerakan Pramuka Indonesia, Maldives, dan Kamboja.

Sedangkan nara sumber dan pelatihnya dari Pramuka Thailand, serta Sekjen Pramuka Filipina Mr. Rogelio S. Villa, Jr dan dari APR-WOSM Support Center, Manila, yaitu Regional Director Mr. JRC Pangilinan dan Director Mr. Prassanna Shrivastava.

“Para pebisnis itu belum mengenal Pramuka, bahkan menggulung dan mengenakan hasduk Pramuka saja masih belum fasih. Selama sepekan mengikuti Kursus, para pebisnis banyak mempelajari hal baru tentang ke-Pramuka-an, mulai dari sejarah, konsep, metoda, prinsip dasar, aturan dan janji (Scout Laws and Promises), hingga keterampilan dan ketahanan hidup di alam terbuka yang memerlukan latihan kerjasama beregu, simpul tali-menali, memasak, dan berbagai latihan lainnya. Beberapa pebisnis menyatakan terkesan dengan visi dan misi ke-Pramuka-an,” kata Kak Brata T. Hardjosubroto, yang ikut sebagai peserta bersama Kak Ahmad Rusdi, Waka Kwarnas GP bidang Hublu yang menjabat sebagai Dubes LBBP RI di Bangkok sejak 2016.

Salah seorang peserta Kursus yang juga pengusaha distribusi peralatan elektronik di Bangkok, Mr. Sirattapong Kiatprathum mengatakan: “Saya sangat terkesan dengan ke-Pramuka-an, dan saya bermaksud akan mengarahkan kegiatan CSR perusahaan saya melalui kemitraan dengan Pramuka, termasuk membina anak-anak jalanan dalam program TTL ini.”

Ketua Program TTL Thailand Mr Settanun Ungkulpasvich berharap dapat mengumpulkan dana sponsor hingga 1 juta Baht (sekitar Rp 439 juta) dari dunia bisnis Thailand untuk mewujudkan target pembentukan 10 Pasukan TTL dalam tahun 2018 ini. “Satu pasukan TTL memerlukan biaya operasional sedikitnya USD 2.000 (sekitar Rp 27,5 juta) dalam setahun, untuk biaya pengadaan seragam bagi 40 peserta didik, instrumen latihan, serta biaya transport bagi pelatih,” katanya.

“Karena tidak ada dukungan dana dari Pemerintah Kerajaan Thailand untuk program TTL, kami berupaya mandiri dengan menghimpun dana CSR dari dunia usaha, agar setidaknya ke-4 Pasukan TTL yang ada saat ini bisa tumbuh dan berkembang sesuai harapan. Namun ternyata upaya kami menghimpun dana dari dunia usaha ini tidak berjalan mulus, di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu sekarang ini,” kata Dr. Somboon.

Ketua dan sejumlah Pembina TTL Thailand merencanakan kunjungan ke Jakarta dan Yogyakarta pada Bulan Juni 2018 untuk studi banding sambil berwisata-religi ke Candi Borobudur.

TTL Filipina

Di Filipina, pasukan TTL pertama dibentuk pada 2007 di sebuah rumah yatim-piatu di Kota Zamboanga, yang merupakan kota berpenduduk sekitar 900 ribu jiwa dengan urbanisasi tertinggi di Filipina.

Setahun kemudian pada 2008 dibentuk Pasukan TTL di ibukota Manila, yang 10 tahun kemudian pada 2018 telah menjadi 3 Pasukan TTL dengan 19 Penggalang yang mayoritas puteri, serta 17 Penegak dan 22 Pandega, dan 4 pelatih. Sementara Pasukan TTL di Zamboanga konon sudah tidak berlanjut lagi.

Program TTL di Filipina mendapat dorongan kuat dari Pimpinan BSP (Boy Scout of the Philippines) sejak saat Mr. JRC Pangilinan masih sebagai Sekjen BSP. Saat ini Mr. JRC Pangilinan duduk sebagai Regional Direktur APR (Asia-Pacific Region)-WOSM.

“Saya sangat mendukung program TTL sejak awal, karena TTL menyentuh langsung anak-anak yang benar-benar memerlukan bantuan, agar mereka mendapatkan hak mereka sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat setara,” kata Mr. JRC Pangilinan, saat berbicara sebagai narasumber dalam Kursus Andalan Mahir tingkat Lanjutan ke-828 (828thCommissioners Advanced Course) setara WoodBadge di Pusat Pendidikan dan Latihan Nasional Pramuka Thailand, di Vajiravudh Scout Camp, Sri Racha, 26 Januari 2018.

Diceriterakannya, dalam sebuah kegiatan TTL Filipina pada 2007, ia memperhatikan seorang anak jalanan yang menerima pembagian sebungkus biskuit dan sebotol minuman Coca-Cola dari Pembinanya. Anak tersebut hanya memakan sekeping-kecil biskuit dan seteguk Coca-Cola, kemudian memasukkannya ke dalam saku. Ketika ditanya, mengapa biskuit dan Coca-Cola tidak dikonsumsi habis seperti anak-anak lainnya, ia menjawab bahwa ia memiliki 2 adik di rumah-gubugnya, dan bermaksud membawa pulang selebihnya untuk dibagikan kepada 2 adiknya.

“Sampai meleleh air mata saya mendengar ucapan anak jalanan tersebut,” kata Mr. JRC Pangilinan, yang kemudian berjanji untuk berkomitmen terus mendukung perkembangan program TTL di Filipina hingga saat ini.

Bangladesh kelola 11 Pasukan TTL

Pramuka Bangladesh memulai program TTL sejak Januari 2006 dan saat ini mengelola 13 Pasukan TTL di berbagai kota, dengan 272 Penggalang putera dan 112 puteri. Sembilan  Pasukan TTL tersebar di Ibukota Dhaka dan Pasukan lainnya di provinsi lain termasuk Dinajpur dan Patuakhali.

Diharapkan pada akhir tahun 2018 dapat terwujud 15 Pasukan TTL dengan 304 Penggalang putera dan 128 puteri.

Pasukan TTL pertama dibentuk Januari 2006 di sebuah DIC (Drop in Centre) atau semacam rumah singgah yang dikelola sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di kawasan Karwan Bazar dengan Pembinanya Mr. Shaikh Tofail Hossain, dan melatih 32 Penggalang putera saja. Setahun kemudian pada 2007 dibentuk satu lagi Pasukan TTL di Saidabad.

Dalam workshop TTL di Nepal, Tim TTL Bangladesh dibawah Andalan Nasional, Dr. Md. Mozammel Haque Khan sebagai Koordinator Nasional, mempresentasikan arah perencanaan dan perkembangan program TTL Bangladesh. Perencanaan tersebut mendapat pujian dan pengakuan, dan terbukti setahun kemudian pada 2008 sudah terbentuk 8 Pasukan TTL.

Dr. Mozammel Haque Khan kini adalah Chief Commissioner atau Ketua Kwarnas Pramuka Bangladesh, dan posisi sebagai Koordinator Nasional TTL diserahkan kepada Mr. Shafique Alam Mehdi, International Commissioner atau Waka Kwarnas bidang Hublu Pramuka Bangladesh, yang kini telah digantikan oleh Mr. Mohammad Rafiqul Islam Khan.

Program TTL Bangladesh menyusun Troop Plan (Perencanaan Pasukan) dan Country Plan (Perencanaan Nasional) yang disesuaikan dengan petunjuk dan arahan APR-WOSM, dalam menjalankan misinya menolong segmen masyarakat yang kurang beruntung dan menjadikan mereka manusia yang berguna.

Perencanaan Nasional TTL Bangladesh berisi kegiatan-kegiatan seperti upacara pelantikan, swa-kelola kegiatan pasukan, perkemahan, pekan Pramuka, serta berpartisipasi dalam hari-hari peringatan nasional seperti kampanye Hak Anak, kebersihan diri, HIV/AIDS, pendidikan keterampilan hidup, program seni dan budaya, Jambore Nasional, wisata pendidikan, penanaman pohon, pembersihan sampah, dan lain-lain.

Program TTL Bangladesh mendapat bantuan dana sebesar 6 lac atau 600.000 Taka (sekitar Rp 100 juta) dari Pemerintah Bangladesh melalui Pramuka Bangladesh, termasuk sedikit sumbangan dari dunia usaha. Pimpinan TTL Bangladesh berharap bantuan tersebut dapat meningkat hingga 15 lac atau 1.500.000 Taka (sekitar Rp 250 juta).

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Tanggung-Jawab Negara

Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1946 Republik Indonesia menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kegagalan dalam menangani dan memelihara mereka, dapat menyebabkan mereka menjadi gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan, tanpa masa depan yang menjanjikan kehidupan normal dan wajar. Bahkan mereka berpotensi mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat.

Melalui metode ke-Pramuka-an, mereka dilatih untuk berfikir dan bersikap lebih terpola, lebih disiplin, dan lebih terbuka.

Gerakan Pramuka dapat membantu meringankan beban negara dalam mengatasi kemiskinan dan kebodohan, karenanya program TTL dinilai sangat strategis dalam turut membantu menciptakan ketahanan nasional. Diakui bahwa menangani anak terlantar tidak mudah, karena tidak semua sekolah mau menerima anak jalanan. Dibutuhkan peran serta semua pihak, terutama Pemerintah, baik di tingkat Pusat maupun Daerah.