+6221-3507645 faq sitemap contact
Breaking News
Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita Wujudkan Pramuka sebagai Pelaku Perubahan untuk Membangun Bangsa yang Bermartabat.
Senin, 16/07/2018
 LATEST TWEETS   

Renungan Warnai Peringatan Hari Bapak Pramuka di Keraton Yogyakarta

 Kwarnas  13 April 2018  87 views

Foto: Dok. Humas Kwarnas

YOGYAKARTA, PRAMUKA.OR.ID- Renungan malam menandai peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia di Keraton Yogyakarta, Rabu (11/4). Renungan ini digelar jelang hari lahir Kak Sultan Hamengkubuwono IX pada 12 April 1912.

Sultan telah didapuk sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988 di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste). Namun, baru kali ini hari lahirnya diperingati sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia.

Sekitar 500 Pramuka dari Kwarcab Gerakan Pramuka se-Daerah Istimewa Yogyakarta dan ketua Kwarda se-Indonesia mengikuti peringatan ini.

Sejumlah tokoh juga tampak mengikuti acara ini, di antaranya Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault, Kak Sultan Hamengkubuwono XI, Kak GKR Mangkubumi, dan lain-lain.

Dikelilingi lilin Tunas Kelapa, peringatan berlangsung khidmat. Acara diawali Pembacaan SK Kwartir Nasional Gebrakan Pramuka nomor 046 tahun 2018 tentang Peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan biografi Kak Sultan Hamengkubuwono IX oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault.

“Meski beliau berpendidikan di Barat, namun itu tidak mengakibatkan karakternya sebagai orang Indonesia, sebagai orang Timur, luntur,” ungkap Kak Adhyaksa.

Kak Adhyaksa menyebut, hari lahir Kak Sultan Hamengkubuwono IX sangat layak diperingati sebagai hari Bapak Pramuka Indonesia. Pasalnya, sangat banyak jasa Sultan untuk Gerakan Pramuka.

“Presiden Soekarno menerima konsepsi Pramuka dari Kak Sultan dan tim. Tanggal 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sultan. Tidak mudah menyatukan sekitar 60 golongan kepanduan saat itu. Tapi berkat ketokohan dan hubungan erat antara Bung Karno dan Sultan, akhirnya pandu-pandu itu bisa disatukan dalam satu wadah, yaitu Gerakan Pramuka,” jelasnya.

Tak hanya itu, Sultan juga memprakarsai terwujudnya Jambore Nasional pertama tahun 1973 di Situ Baru, Jakarta.

“Beliau bekerja ikhlas, tanpa pamrih. Tanpa pencintraan. Karena Pramuka dan keikhlasan tak dapat dipisahkan,” pungkas Kak Adhyaksa.

Acara diakhiri pembacaan renungan mengenai jasa-jasa Sultan terhadap Gerakan Pramuka dan rakyat Indonesia diikuti doa bersama. (AK)